Bisnis ala Bakmi Mbah Mo

Posted: 7 November 2010 in Manajemen/Bisnis, Strategi

Perusahaan keluarga memiliki berbagai keunikan yang tidak terdapat pada perusahaan bukan keluarga. Misalnya, keunikan dalam hal keagenan. Pada perusahaan keluarga, konflik kepentingan dapat diminimalkan karena anggota keluarga umumnya ikut serta dalam operasi perusahaan, selain kepentingan yang lebih mengedepankan kelanggengan perusahaan. Kehadiran keluarga sebagai investasi jangka panjang memberikan berbagai keuntungan. Perusahaan merupakan aset yang akan diwariskan turun-temurun ke generasi selanjutnya. Walaupun, masalah keagenan dan kepemilikan justru bisa lebih besar daripada perusahaan non-keluarga.

Selain itu, hambatan birokrasi dalam pengambilan keputusan juga relatif tidak serumit perusahaan non-keluarga, tetapi bila tidak pengambilan keputusan tidak dikelola dengan baik, masalah justru bisa lebih besar. Hal tersebut menunjukkan kompleksitas dalam pengelolaan keluarga. Salah satu perusahan keluarga yang memiliki keunikan (terutama pemasarannya) adalah warung Bakmi Mbah Mo. Di bawah pengelolaan Murlidi, menantu Mbah Mo (pendiri), Bakmi Mbah Mo menjelma bukan saja sebagai ikon kuliner di Yogyakarta, tetapi mampu membesarkan perusahaan dengan membuka beberapa cabang dengan nama lain, Pak Man, tetapi dengan kualitas dan cita rasa yang sama dengan Bakmi Mbah Mo.

 

Profil Bakmi Mbah Mo

Warung Bakmi Mbah Mo terletak di daerah yang dari pandangan marketing dianggap tidak strategis. Lokasinya agak jauh, kurang lebih sekitar 10 km dari pusat kota Yogyakarta. Tempat yang dulunya merupakan bekas kandang sapi ini, terletak di Desa Code, Bantul, antara jalan Parangtritis dan jalan Bantul. Bila dari jalan Jogja-Parangtritis, menemui perempatan Manding, belok ke barat, sampai perempatan lingkar luar Bantul ke arah utara sampai ke Desa Code. Bila dari jalan Jogja-Bantul, sampai di perempatan Klodran, belok ke timur menuju RSUD Bantul sampai menemui perempatan yang sama dengan jalur pertama tadi.

Letaknya yang berada di dalam desa yang masih asri dan jalanannya yang sebagian masih tanah, membuat akses menuju ke sana tidak mudah bagi yang belum pernah ke sana. Warung Bakmi Mbah Mo memiliki ruang parkir yang cukup luas dikelilingi pepohonan yang terletak di halaman samping rumah Mbah Mo yang bisa menampung parkir puluhan mobil dan motor.

Warung ini bisa dibilang istimewa. Dengan lokasi yang cukup terpencil, pengunjungnya selalu membludak, datang dari berbagai kalangan, hal ini terlihat dari jejeran kendaraan yang terparkir di halaman samping. Untuk sekedar menikmati sepiring bakmi Jawa pelanggan bisa mengantri sekitar 2 jam. Hal ini karena selain memang ramai pembeli, setiap satu pesanan, satu per satu memasaknya. Hal ini dilakukan demi menjaga kualitas rasa dan racikan bumbunya. Harganya juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan bakmi Jawa umumnya, walaupun dari segiproduknya, tidak berbeda jauh dengan bakmi-bakmi di Bantul pada umumnya.

Kekhasan dari bakmi Jawa ini adalah bakmi godog/rebusnya. Kuahnya kental dan warnanya putih pucat. Mie-nya terdiri bakmi kuning dan mihun dengan kuah kental. Setiap jenis bakmi tidak menggunakan kecap, seperti lazimnya masakan bakmi khas Bantul yang tidak mengenal kecap. Untuk melepaskan dahaganya, wedang teh jahe dengan gula batu merupakan favoritnya. Warung ini buka setiap hari mulai jam 5 sore hingga malam hari.

Atmo Wiyono, yang kemudian akrab dipanggil Mbah Mo, merupakan pendiri dari warung bakmi yang telah melegenda di dunia kuliner Yogyakarta ini. Sepeninggal Mbah Atmo Wiyono, warung diteruskan istrinya, walaupun pengelola di lapangan sebenarnya adalah Murlidi, menantu Mbah Mo. Dengan kecakapannya dalam mempromosikan warung bakminya, Murlidi sering dipanggil untuk mengisi seminar dan pelatihan pengembangan bisnis dan berbagi strategi bisnisnya.

 

Strategi Bakmi Mbah Mo Era Murlidi

Murlidi adalah menantu dari Mbah Mo yang meneruskan usaha Mbah Mo. Penampilannya memang sederhana, dan hanya lulusan SD. Beliau merupakan pensiunan pegawai BKKBN Bantul. Tetapi beliau adalah seorang mentor Entrepreneur University (EU). Beliau mendapatkan ilmu-ilmu marketing bukan dari sekolah formal, tetapi dari ketrampilannya secara alamiah. Walau begitu, justru disitulah menariknya. Ilmu yang didapatnya secara otodidak tersebut membuat praktek-praktek pemasarannya justru jauh lebih praktis dan mudah diterapkan dibanding bila berpedoman teori-teori pemasaran secara formal.

Pak Murlidi sangat berjasa dalam mempopulerkan bakmi Mbah Mo dengan sentuhan profesionalitas bisnisnya. Saat awal-awal bakmi Mbah Mo berdiri hanya dikunjungi sekitar 5 orang saja per hari, tetapi setelah dikelola oleh Murlidi, puluhan bahkan ratusan orang yang berkunjung. Pembelinya pun beragam, dan tidak jarang para pejabat dan pengusaha banyak yang datang, paling tidak terlihat dari jejeran mobil-mobil yang terparkir di halaman samping.

Pak Murlidi memang sengaja menerapkan strategi pemasaran yang unik dan berbeda karena sadar bahwa lokasi Bakmi Mbah Mo tidak strategis. Metode-metode yang diterapkannya ini berhasil. Menurutnya, dari sekitar 50 penjual bakmi yang ada di sepanjang jalan menuju Desa Code, pelanggan tetap mencari sampai ke sini, walaupun sebenarnya dalam hal rasa sama saja, bahkan dari harga justru lebih mahal. Tetapi tempat yang jauh dan tidak strategis menurutnya bukan kendala untuk berbisnis. Menurutnya, yang penting adalah bagaimana mempromosikannya.

Keberhasilan Murlidi dalam merumuskan strategi pemasaran yang unik dan berbeda, membuat Murlidi sering diminta berbagai pihak untuk membagikan kiat bisnisnya. Dia sering disibukkan dengan mengatur jadwal mengajar dan menularkan ilmu bisnis di berbagai kota, walaupun masih tetap sibuk memasak bakmi. Dia mengaku sering diundang untuk berbicara tentang motivasi dan pilihan-pilihan bisnis untuk pensiunan karyawan dan para pekerja yang akan memasuki masa pensiun di BUMN seperti Semen Gresik, Astra, Pertamina, dan lain-lain.

Trik-trik marketing diungkapkan Pak Murlidi. Pak Murlidi menceritakan beberapa tipsnya dalam mempopulerkan bakmi Mbah Mo. Cara-cara promosinya cukup sederhana dan sebenarnya mudah dilakukan.

Pertama, dimanapun dia berada, dia selalu meceritakan tentang bakminya. Kadang melalui media radio dengan mengirim salam ke seseorang dengan menyebutkan nama Mbah Mo, kemudian menceritakan pengalamannya ketika mengisi seminar-seminar maupun kelas-kelas EU.

Kedua, dia selalu berkomunikasi dengan pengunjung. Pak Murlidi sering membuka komunikasi pada para pengunjungnya, mengajak mereka berdiskusi tentang apa saja agar tidak bosan menunggu hidangan yang akan mereka sajikan, karena memang pelanggan sering antri cukup lama karena setiap hidangan bakmi Mbah Mo dimasak satu persatu. Dari situlah terjalin selain masukan-masukan, juga keakraban dengan para pelanggannya. Kesan pelanggan yang baik terhadap Mbah Mo seringkali membuat pelanggan menceritakan Bakmi Mbah Mo ke rekan-rekannya, pemasaran dari mulut ke mulut singkatnya.

Ketiga, sering melakukan lobi-lobi kepada orang dekat para pejabat, pengusaha, atau orang-orang yang banyak koneksinya. Dengan sopir pejabat misalnya. Pak Mur sering melobi para sopir yang bertugas mengantarkan para pejabat untuk mereferensikan bakminya apabila ditanya oleh majikannya tentang makan malam apa yang enak di Yogyakarta.

Intinya, kita yang Pak Mur tekankan adalah: Jaga dan pertahankan kualitas produk (Product Quality), selalu menjaga dan meningkatkan pelayanan (Service Excellent), kenalilah pelanggan Anda (Customer Focus and Customer Oriented)

Saat ini Bakmi Mbah Mo yang terkenal tersebut sudah memiliki cabang di beberapa kota dengan nama “Bakmi Pak Man Jogja”. Rasa bumbunya sudah dipatenkan, dan citra rasanya sama dengan Bakmi Mbah Mo, sehingga membuat orang yang datang di Bakmi Pak Man sama seperti datang ke Bakmi mbah Mo. Kini Pak Murlidi kini telah membuka beberapa cabang dengan sistem franchise di beberapa kota.

 

Strategi Bakmi Mbah Mo

Di tangan Atmo Wiyono yang kemudian melegenda dengan nama Mbah Mo, bakmi menjadi cita rasa yang siap mengundang selera siapa pun. Tetapi, perubahan signifikan terjadi ketika Murlidi ikut serta menjalankan usahanya. Memang ada kecenderungan, dari bisnis keluarga generasi pertama, menunjukkan sifat yang tidak profesional dan mengarah ke manajemen tradisional yang hanya mengandalkan one man show, tanpa banyak mengikuti prinsip-prinsip bisnis dan hirarki birokrasi, intinya bisnis hanya berjalan mengalir saja, tanpa perlu lompatan-lompatan besar.

Murlidi, yang meneruskan bisnisnya, menunjukkan bahwa anggota keluarga memperlihatkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi. Filsafat bisnis keluarga mengatakan bahwa pertama-tama yang harus didahulukan adalah kepentingan keluarga. Sementara manfaat ekonomi menjadi prioritas kedua. Dalam bisnis Bakmi Mbah Mo, keduanya berjalan beriringan tanpa konflik kepentingan. Kepentingan keluarga, dalam hal ini kepemilikan, Murlidi tetap melibatkan ibu mertuanya dalam menjalankan usaha Bakmi Mbah Mo. Selain itu, dalam hal cita rasa, Bakmi Mbah Mo berusaha untuk mempertahankannya. Sementara Mbah Mo juga ofensif dalam pertumbuhan bisnisnya dengan membuka cabang-cabang di berbagai kota, tetapi dengan nama lain, Bakmi Pak Man. Hal ini dilakukan untuk menjaga ’kesakralan’ Mbah Mo sebagai bakmi Jawa yang ndeso. Dengan trik-trik marketing dan pertumbuhannya, Murlidi menunjukkan sentuhan profesionalitas dalam mengembangkan usaha bisnis Bakmi Mbah Mo. Bakmi Mbah Mo merupakan salah satu contoh perusahaan yang melakukan suksesi tanpa konflik kepentingan dan bisa lebih berkembang setelah pergantian generasi.

Menurut Lukas Setia Atmaja (2010), ada beberapa agenda bagi perusahaan keluarga di Indonesia untuk mampu menjadi perusahaan yang langgeng dan eksis. Pertama, memiliki tata kelola yang baik. Hal tersebut bisa berisi sistem nilai, etika bisnis, komitmen, dan interaksi dengan stakeholders. Kedua, menyadari adanya ancaman penurunan kinerja perusahaan keluarga saat dikelola generasi penerus. Maka perlu dikembangkan suatu sistem nilai inti yang menjadi peluang untuk menciptakan perbedaan dari para kompetitor dalam menjalankan bisnis. Ketiga, harus berani membuat terobosan dalam berbagai aspek. Perusahaan yang berumur panjang adalah perusahaan yang inovatif dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s