Kepulauan Rempah-Rempah

Posted: 10 Maret 2009 in Sejarah

Kepulauan Rempah-Rempah sudah menjadi legenda di Eropa sebagai sumber terbesar kekayaan Timur. Cengkeh dan pala adalah produknya. Cengkeh, kuncup bunga yang dikeringkan dari pohon cengkeh, pertama kali dicatat dalam sastra Barat dalam sebuah laporan Yunani dari abad ketujuh Masehi. Di Eropa selama abad pertengahan, cengkeh dijual dengan harga sangat mahal, berkaitan dengan biaya produksi dan keterbatasan kuantitas. Pohon cengkeh terus berproduksi selama tigaperempat abad, yang mulai berbunga ketika berusia 12 tahun. Yang membuatnya sangat mahal adalah biaya transportasi dan ririko tinggi selama perjalanan panjang di laut. Cengkeh aslinya hanya tumbuh di pulau-pulau kecil Ternate, Tidore, Halmahera, dan sedikit pulau lain. Namun penduduk setempat tidak banyak memperoleh keuntungan dibanding pedagang-pedagang dari Jawa, Gujarat, Cina. Lima puluh kilogram cengkeh hanya berharga satu atau dua dukat di Maluku, tapi dijual 10 dukat atau lebih di Malaka. Kapal Magellan Victoria adalah yang pertama membawa cengkeh langsung dari Maluku ke Eropa, di situ ia dijual dengan keuntungan 2.500 persen.

Pala adalah produk utama Ambon dan Kepulauan Banda. Pohon itu mulai berbuah setelah 10 tahun. Pada usia 60 tahun ia berhenti berproduksi, tapi kadang-kadang bisa mencapai usia 100 tahun. Selama abad terakhir, cengkeh telah ditanam di beberapa tempat lain di dunia, tapi produksi pala masih terbatas pada Kepulauan Indonesia.

Sementara lada adalah produk utama Sumatra dan Jawa Barat. Produksi lada tidak terbatas di Indonesia saja, Pantai Malabar, Siam, dan Cochin-Cina juga merupakan produsen yang menyuplai ke Cina atau Asia Barat dan Eropa. Setelah tiga tahun ia mulai berbuah dan, kalau dipelihara denga baik, akan terus berbuah sampai 20 tahun. Permintaan akan lada jauh lebih banyak dibanding permintaan akan rempah-rempah Maluku dan harganya biasanya bagus di Cina dan Eropa. Kontrol perdagangan memungkinkan sebagian negara di Indonesia menangkis segala ancaman terhadap kemerdekaan mereka untuk waktu lama.

Portugis berharap untuk memegang kendali monopoli atas ekspor rempah-rempah itu. Untuk itu mereka harus menyingkirkan calo-calo yang mengirimkan langsung ke Eropa. Bila Portugis ingin memperoleh harga tinggi, mereka harus memonopoli dan membatasi ekspor. Ini berarti perang terhadap pedagang-pedagang Asia dan harus memegang kendali atas jalur pelayaran antara Indonesia danArabia. Setiap kilo pala yang diambil dari pedagang Muslim adalah pukulan terhadap kemakmuran kota-kota perdagangan di Suriah dan Mesir, yang telah tunduk di bawah kekuasaan politik Sultan Turki. Ini berarti berkurangnya penghasilan Padidash di Istanbul, dan demikian keuntungan buat orang Kristen yang harus berperang melawan armada Turki di Laut Tengah. Jadi, membangkrutkan orang Muslim adalah pekerjaan yang patut dipuji sekaligus menguntungkan.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membina hubungan dengan produsen rempah. Sayang, para produsen ini sudah memeluk Islam sejak seperempat abad sebelumnya. Ini membuat masalah membuat rumit bagi Portugis. Albuquerque mengirim wakilnya, Antonio d’Abreu, dengan tiga kapal, dari Malaka ke Maluku pada akhir tahun 1511. Ia diperintah tegas untuk tidak menggunkan cara militer dan untuk memperkenlkan diri sebagai pedagang. Armada kecil ini didahului oleh kapal layar seorang saudagar asli Melayu, yang berjanji akan mempersiapkan jalan. Pada awalnya perjalanan tidak sulit. Pelabuhan Gresik di Jawa Timur dilalui dengan selamat, tapi setelah itu kesulitan muncul. D’Abreu kehilangan salah satu kapalnya antara Jawa dan Kepulauan Banda. Yang dua lagi tiba dalam keadaan sedemikian rupa dan membeli kargo cengkeh dan pala dari orang Banda dan bahkan tidak mencoba pergi ke Ternate atau Tidore. Hanya satu kapal yang kembali ke Malaka. Yang satu lagi, dipimpin oleh Francesco Serrao, dihantam badai dan terdampar di Ambon dan akhirnya karam. Kapten Serrao tidak bisa mencapai Ternate dengan kapalnya, tapi dia sendiri berhasil sampai di sana. Dia membuat perjanjian dengan seorang pelaut Melayu yang membawa dia ke Ambon. Di sini dia berhasil mendapatkan tempat di hati penduduk dengan membantu sebuah perang kecil mereka. Segera dia menjadi terkenal sehingga membuat penguasa Ternate mengirimkan sebuah kapal untuknya. Demikianlah, tujuan asli perjalanan untuk membuka hubungan dengan Kepulauan Rempah-Rempah itu tercapai tanpa disengaja.

Sumber: Vlekke, Bernard H. Nusantara M.. 2007.. Jakarta : PT Gramedia.

Komentar
  1. mhyron mengatakan:

    abng….klw bhole itu trangkan mulai dari awal proses masuknya kaum penjajah d indonesia kemudia asal mula nama maluku yang sekarang lagi menjadi bahan pertimbangan..!!

    • Gading mengatakan:

      Ceritanya akan sangat panjang kalau ditulis di blog ini. Untuk mengetahui proses masuknya kaum penjajah di Indonesia saya sarankan anda membaca buku “Nusantara” tulisan Bernard Vlekke. Sementara mengenai Maluku anda bisa baca buku “Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon” tulisan Des Alwi.

  2. daus_bachan mengatakan:

    sedikit komen untuk sejarah kesultanan bacan jangan asal tulis ka tapi tolong koordinasikasn dulu dengan tetuah adat kesultanan coalx banyak yang dorang anggap salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s