Sejarah Singkat Tanam-paksa

Posted: 27 Februari 2009 in Sejarah

Perang Diponegoro telah usai. Perang ini menelan biaya puluhan juta gulden. Nlai uang jatuh. Javasche Bank – sebuah bank sirkulasi, didirikan berdasarkan Putusan Kerajaan tertanggal 31 Januari 1827, sebagai akibat dari perombakan ketatauangan, menghadapi kebangkrutan.

Pada tahun 1830 muncullah ke hadapan Raja Belanda seorang pensiunan Komisaris Jenderal Hinda Barat untuk mempersempahkan rencana-rencana memulihkan keadaan keuangan Hindia Belanda, yaitu Cultuurstelsel. Katanya, “Orang Jawa itu tidak boleh dibebani pekerjaan baru, yang tidak mereka sukai, sedang Cultuurstelsel itu pun tidak boleh dilaksanakan, selama dia tidak dikehendaki oeh penduduk.” Raja Belanda, Willem, menerima rencana orang itu. Orang itu bernama Johannes van den Bosch. Dengan diterimanya rencana itu Menteri Jajahan, Elout, mengundurkan diri. Gubernur Jenderal Bus diturunkan, digantikan van den Bosch.

Bosch datang, menduduki takhta Gubernur Jenderal, dipadamkannya oposisi dalam Raad Hindia dengan jalan mengirimkan mereka ke daerah-daerah Jawa Tengah yang baru saja jatuh ke tangan Hindia Beland karena kekalahan Diponegoro. Dengan demikian muncullah van den Bosch sebagai Gubernur Jenderal paling berkuasa dalam sejarah Hindia Belanda. Van den Bosch tak menyia-nyiakan kepercayaan rajanya. Dengan tangan besi mulai melaksanakan rencana-rencananya dengan lebih keras menghiap kekayaan bumi dan tenaga manusia Pribumi, dengan lebih keji menyurutkan harga manusia Pribumi.

Menurut rencananya, penduduk bila menghendaki, boleh menanami seperlima dari tanahnya dengan tanaman-tanaman yang dikehendaki oleh Gubernemen: nila, gula, kopi, dan tembakau. Sedang hasilnya dapat diserahkan kepada pemerintah dengan “harga pasar”. Di samping itu tanah yang ditanami dengan tanaman yang dikehendaki itu dibebaskan dari pajak bumi. Jadi menurut teori van den Bosch, bukan saja Hindia Belanda dapat memperbaiki dan meningkatkan ekspor hasil bumi yang telah merosot sebelum Diponegoro mengangkat senjata, juga penduduk dikurangi wajib pajaknya, ditambah dengan sumber penghasilan baru. Para petani yang masih ragu-ragu boleh tidak melaksanakan kehendak pemerintah. Sepintas indah didengar, apalagi menurut pengumuman resmi “lebih baik tidak menerima hasil bumi daripada hasil itu didapatkan dengan siksaan-siksaan kewajiban-kewajiban atas penduduk, yang mana kami berhutang kepadanya.” Tapi mendadak muncul peraturan: barangsiapa tidak punya tanah, harus kerja di perkebunan-perkebunan pemerintah selama 66 hari dalam setahun!

Van den Bosch tanpa malu-malu mulai mengobrak-abrik penduduk desa yang baru saja dapat tidur dan kerja dengan aman setelah padamnya Perang Jawa. Lebih dari seperlima sawah rakyat harus ditanami tebu, atau kopi, atau nila, atau kayu manis, atau lada, atau kapas – hasil bumi koloial untuk membuat Belanda tiada terkalahkan di pasar dunia. Para petani harus tanam tanaman-tanaman yang dikehendaki pemerintah, harus urus di tanah garapannya sendiri, buat musuhnya sendiri, ditambah harus bayar pajak bumi, kerja tanpa upah, dengan “harga pasar” bagi hasil buminya yang telah ditentukan oleh pegawai-pegawai korup. Ditambah lagi dengan wajib angkut hasil bumi tersebut ke tempat-tempat yang telah ditentukan juga tanpa upah. Dan ditambah lagi dengan 66 hari dalam setahun rakyat harus kerja gratis buat musuhnya di perkebunan pemerintah.

Kapal-kapal N.H.M. mengangkut hasil bumi Jawa itu ke Nederland, membanjiri paar Amsterdam. Sedang “keuntungannya dibagi secara adil antara maskapai-maskapai besar ini dengan Sri Baginda Raja.” (dari Dr. H.J. de Graaf: Geschiedenis van Indonesiè) Keuntungan-keuntungan dari Cultuurstelsel setiap tahunnya merupakan hadiah Sinterklas dari beberapa juta gulden, sampai-sampai Menteri Jajahan Baud menamakan Jawa sebagai “gabus tempat Nederland berapung”.

Perbudakan yang oleh Raffles dihapus, dalam situasi baru dihidupkan lagi. Cultuurstelsel yang indah akhirnya justru menjadi Tanampaksa. Petani-petani Jawa akhirnya tidak sempat menggarap tanahnya sendiri. Tapi pajak tetap harus dibayar.

Hanya 5 tahun setalah padamnya Perang Diponegoro, Tanampaksa disuburkan oleh keringat, tangisan, dan arah Pribumi, sampai di Nederland segera berubah menjadi air madu sorga, menggerakkan kembali perdagangan, pelayaran, dan industri yang hampir beku. Sampai dengan 1877, Tanampaksa mengalirkan kelebihan anggaran ke Nederland mencapai 800 juta gulden.

Dengan adanya tanampaksa, Jawa menjadi sebuah kekuatan dunia di lapangan ekonomi di pasar Eropa, cuma di tangan Belanda.

Bagaimana dengan nasib Pribumi? Khususnya petani? Keuntungan tanampaksa hanya sedikit yang digunakan Hindia Belanda bagi yang mengerjakan sendiri. Sebagian besar mengalir ke Nederland.

Sumber: Toer, Pramoedya Ananta. 2007. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta : Lentera Dipantara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s