Surat, Agustus 1900, kepada Nyonya Abendanon

Posted: 22 Februari 2009 in Kisah

Di bawah pohon-pohon baru yang sedang berkembang kuning di pelataran itu menggerombol-gerombol dengan kacau dan tak teratur gadis-gadis besar dan kecil di atas permadani rumput hijau yang empuk tebal. Begitu panasnya waktu itu, tak seorang pun berniat hendak bermain-main.

“Ayo, Lesty, berceritalah, atau membaca buat kami,” rayu seorang gadis coklat, yang bukan hanya karena warna kulitnya, tapi juga karena pakaiannya menunjukkan seorang anak pribumi. Seorang gadis putih yang besar, yang sedang bersandar pada batang pohon serta membaca buku dengan rajinnya, mengangkat pandangnya dan menjawab: “Ah tidak, aku harus meneruskan pelajaran bahasa Prancis ini.”

“Kau kan bisa lakukan juga di rumah, kan itu bukan pekerjaan sekolah?”

“Ya, tapi kalau aku tak rajin belajar Prancis, dua tahun lagi aku tak boleh pergi ke Holland. Dan aku sudah begitu ingin meneruskan sekolah ke sekolah guru. Kalau kelak aku lulus dan menjadi guru, barangkali saja aku ditempatkan di sini, lantas duduklah aku di depan kelas, tidak di dalam kelas seperti sekarang. Tapi, coba katakan, Ni, kau tak pernah ceritakan padaku, kau mau jadi apa kelak?”

Sepasang mata yang besar menatap pembicara itu dengan herannya.

“Ayo, katakanlah.”

Si Jawa itu menggelengkan kepala dan menjawab pendek: “Tak tahu.” Tidak, memang ia tidak tahu, tak pernah ia memikirkannya, ia masih sangat mudanya dan tiada mempedulikan sesuatu pun. Pertanyaan kawannya gadis kulit putih itu meninggalkan kesan dalam padanya. Pertanyan itu menyiksanya, tak henti-hentinya ia mendengung pada kupingnya: “Kau mau jadi apa kelak?” Ia berpikir dan berpikir. Hari itu ia menjalani banyak hukuman di sekolah, ia begitu kacau memberikan jawaban-jawaban bodoh kalau ditanyai dan melakukan kesalahan-kesalahan yang paling tolol dalam pelajarannya. Memang tak bisa lain daripada itu, pikirannya tidak pada pelajarannya, tapi masih tetap lekat pada pertanyaan yang didengarnya waktu mengaso.

sumber: Toer, Pramoedya Ananta. 2007. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta : Lentera Dipantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s