Kenikmatan Tidur

Posted: 10 Januari 2009 in Kata

Dahulu seorang ajengan lewat di hadapan seorang pemuda yang terkenal pemurung dan suka menyendiri. Ketika si pemuda sedang asyik dalam satu lamunan, sang Ajengan bertanya, “Sedang apa Anak Muda?”

“Sedang mencari jawaban dari satu pertanyaan, Kiai,” katanya dengan hormat yang dipaksakan.

“Pertanyaan apa? Coba katakan, mungkin saya bisa memberi jawaban atau memecahkan pertanyaan kamu itu.”

“Pertanyaan ini sukar dijawab, Kiai,” kata si pemuda sambil bermaksud meninggalkan Ajengan.

Tapi sang Ajengan berkata kembali, “Tanyakan saja kepadaku. Kalau aku bisa akan aku jawab. Kalau tidak, ya sekurang-kurangnya kita bisa sama-sama mencari jawabannya.”

Si pemuda akhirnya menanyakan juga pertanyaan itu, “Baiklah. Tapi saya mohon Kiai jangan marah.”

Satu perkataan itu membuat gusar sang Ajengan.

“Pertanyaan saya adalah kapankah kita merasakan nikmatnya tidur?” Tanya si pemuda penuh keseriusan.

Sang Ajengan kaget dengan pertanyaan itu. Pikirnya, si pemuda akan bertanya tentang satu permasalahan berat seputar agama, misalnya takdir. Tapi Ajengan kita ini akhirnya menjawab, “Ya ketika kita bangun dari tidur. Setelah tidur.”

“Itu bukan nikmatnya tidur yang kita rasakan, tapi nikmatnya bangun,” kata si pemuda.

Ajengan mengerutkan dahi sebentar, dia membenarkan kata-kata si pemuda. Lalu dia memberikan jawaban lain, “Ketika kita akan tidur.”

“Tidur saja belum, masa kita bisa merasakan nikmat sesuatu yang sesuatu itu belum kita lakukan,” sanggah si pemuda yang mungkin bagi sang Ajengan kedengarannya menjengkelkan dan menghina dirinya.

“Kalau begitu ketika kita tidur,” lanjut Ajengan sedikit marah.

“Ketika kita tidur? Bukankah ketika kita tidur akal kita mati dan kita tidak sanggup merasakan apa pun sebab kita sedang tidak sadar. Bahkan ketika kita tidur, kita tidak punya rasa malu,” kembali si pemuda menyanggah jawaban Ajengan.

Muka sang Ajengan kita merah padam. Dia merasa dihina oleh si pemuda. Akhirnya dia berkata, “Kamu gila!”

Si pemuda tak mau kalah, dia berkata, “Lebih baik saya yang tahu kegilaan saya daripada Kiai yang tidak tahu kegilaan Kiai sendiri.”

dari buku Tapak Sabda, karya Fauz Noor (Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta)

Komentar
  1. fauz noor mengatakan:

    salam…

    kalau boleh, bisa anda jawab permainan saya ini?

    hatur nuhun.

    fauz noor

    • Gading mengatakan:

      Sebenarnya saya belum punya jawaban pasti… (mungkin tidak ada jawaban pastinya)

      Sedikit yang saya tahu tentang tidur. Ketika kita tidur, maka terputuslah hubungan antara ruh dan raga, seperti orang mati. Dan orang mati lebih berat daripada orang hidup.

      Yang menjadi masalah adalah apa kita sudah bisa dikatakan tidur? Atau jangan-jangan kita hanya sekedar tertidur, bukan tidur (konsep jawanya: turu eling), tidur yang mutu.

      Saya masih mencari tahu apa dan bagaimana itu tidur. Apakah seorang Fauz Noor tahu apa itu tidur?

  2. fz mengatakan:

    thank you…

    seperti ujaranku, ini hanya permainan.

    dalam ilmu logika, ada yang dikenal dengan hukum identitas, “sesuatu itu adalah sesuatu itu sendiri, dan bukan yang lain dari sesuatu itu sendiri”. mudahnya, A adalah A, dan A bukan B. nah, ini yang sering dilupakan. “terjaga adalah terjaga, dan terjaga bukan tidur.” artinya, pertanyaan itu (kapan nikmatnya tidur?) terlontar ketika kita terjaga, sedangkan “terjaga itu bukan tidur”. Jadi, karena pertanyaan itu datang ketika kita terjaga maka kita berhak untuk “menganalisa” pertanyaan itu dan jawabannya, “Ketika tidak sadar”. kalau diserang dengan, “Bagaimana mungkin merasakan nikmat tidur sedangkan kita tak sadar?” jawabnya, “pertanyaan ‘kapan nikmatnya tidur?’ datang ketika saya sadar, bukan ketika aku tak sadar.”

    mungkin, hikmah di balik ini, selamanya ‘ketaksadaran’ akan menjadi sebuah misteri sebagaimana kematian. tetapi, adalah orang yang tak pernah tidur? adakah orang yang tak akan mati? artinya, MATIKAH SEBELUM KITA MATI SEBAB DISANA ADA KENIKMATAN YANG TAK TERKIRA.

    thank you…

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s